Penyakit Hipertensi dan Faktor Risiko

Penyakit hipertensi dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Menurut Elsanti, faktor risiko yang memengaruhi penyakit hipertensi ada yang dapat dikontrol dan tidak dapat dikontrol. Risiko yang tidak dapat dikontrol dan yang dapat dikontrol adalah sebagai berikut:

Faktor risiko penyakit hipertensi yang tidak dapat dikontrol

Jenis kelamin
Penyakit hipertensi banyak terjadi pada jenis kelamin pria usia dewasa. Namun, lebih banyak menyerang wanita umur 55 tahun. Sekitar 60% penderita penyakit ini adalah wanita. Hal tersebut dikaitkan dengan perubahan hormon esterogen setelah masa menopause. Menurut Marliani, peran hormon esterogen berfungsi untuk meningkatkan kadar HDL yang merupakan pelindung pencegahan ateroklorosis. Ketika menapouse, hormon esterogen mengalami penurunan sehingga hipertensi bisa menyerang.


penyakit hipertensi
Tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah (tensi)


Umur
Biasanya penyakit hipertensi banyak menyerang orang lanjut usia atau orang tua. Penyakit ini banyak dialami oleh wanita yang berumur di atas 50 tahun.

Keturunan
Menurut Rohaendi (2008), penyakit hipertensi cenderung diwariskan dalam keluarganya. Jika salah seorang dari orang tua Anda mengidap tekanan darah tinggi, maka 25% kemungkinan Anda akan mewarisi tekanan darah tinggi. Namun, jika kedua orang tua mempunyai tekanan darah tingi maka peluang terkena penyakit ini akan meningkat menjadi 60%.


Faktor risiko penyakit hipertensi yang dapat dikontrol

Merokok
Merokok merupakan kebiasaan buruk yang banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia, padahal merokok dapat menimbulkan berbagai penyakit, seperti gangguan, kehamilan, hipertensi, kanker, dan lainnya. Merokok dapat menyebabkan penyakit hipertensi karena efek nikotin yang terkandung dalam rokok. Asap rokok memiliki kemampuan menarik sel darah merah lebih kuat daripada kemampuan menarik oksigen sehingga bisa menurunkan kapasitas sel darah merah pembawa oksigen ke jantung dan jaringan lainnya.

Status gizi
Status gizi juga merupakan faktor penyakit hipertensi dan penyakit lainnya. Untuk memantau asupan gizi perlu dilakukan agar terhindar dari ini atau penyakit lainnya. Salah satu cara memantau, yaitu dengan mengukur berat badan dengan IMT ( Indeks Masa Tubuh). Obesitas merupakan faktor yang memengaruhi timbulnya penyakit hipertensi, jantung koroner, dan diabetes melitus. Oleh sebab itu, jaga selalu berat agar ideal Anda dan mengukurnya dengan IMT.

Konsumsi natrium
Konsumsi natrium atau garam memengaruhi terjadinya penyakit hipertensi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung, dan tekanan darah. Faktor lain yang ikut berperan yaitu sistem renin angiotensin yang berperan penting dalam pengaturan tekanan darah. Produksi rennin dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya stimulasi saraf simpatis. Renin berperan dalam proses konversi angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin II menyebabkan sekresi aldosteron yang mengakibatkan menyimpan garam dalam air. Keadaan ini berperan timbulnya hipertensi (Susalit dkk,2001).

Stres
Hubungan antara stress dan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf simpatis peningkatan saraf dapat menaikkan tekanan darah secara intermiten (tidak menentu). Stres yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah yang menetap jadi tinggi.


Komplikasi penyakit hipertensi

Seringkali penyakit hipertensi disepelekan, padahal penyakit ini dapat mengakibatkan komplikasi dengan organ vital, seperti:

Organ jantung
Kompensasi jantung yang bekerja keras akibat hipertensi menyebabkan penebalan otot jantung kiri. Kondisi ini akan memperkecil rongga jantung untuk memompa, sehingga jantung akan semakin membutuhkan energi yang besar. Kondisi ini disertai dengan adanya gangguan pembuluh darah jantung sendiri (koroner) yang menyebabkan otot jantung kekurangan oksigen dan timbul rasa nyeri. Apabila kondisi ini dibiarkan terus menerus akan menyebabkan gagal jantung dan bisa menimbulkan kematian.

Sistem Saraf
Gangguan sistem saraf terjadi pada sistem retina (mata bagian dalam) dan sistem saraf pusat (otak). Di dalam retina terdapat pembuluh-pembuluh darah tipis yang akan menjadi lebar saat terjadi hipertensi dan memungkinkan terjadinya pecah pembuluh darah yang bisa menyebabkan gangguan pada organ penglihatan.

Sistem Ginjal
Penyakit hipertensi yang terjadi dalam waktu lama, dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah pada organ ginjal sehingga fungsi ginjal sebagai pembuang zat-zat racun bagi tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik. Akibat gagalnya sistem ginjal akan menyebabkan penumpukan zat yang dapat merusak organ tubuh lainnya, terutama otak.


Oleh: Bidan Sulistia
Editor: Adrie Noor
Sumber: academia.edu.co.id


Terima kasih untuk Like/comment FB :