Askep Gerontik dengan Hipertensi (Pasien Lansia)

Askep gerontik penderita hipertensi adalah asuhan keperawatan hipertensi pada pasien lansia atau lanjut usia. Gerontik merupakan istilah yang dipakai pada pasien dengan umur yang telah lanjut atau lansia. Pada lansia banyak terjadi berbagai penyakit khususnya penyakit kronik yang di derita. Salah satu penyakit kronik yang banyak diderita oleh para lansia ini ialah penyakit hipertensi. Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang di tandai dengan peningkatan tekanan darah. Pada lansia peningkatan darah sudah terjadi lama sehingga digolongkan sebagai penyakit kronik. Untuk mengatasi hal tersebut maka pada lansia penderita hipertensi perlu diberikan askep gerontik dengan hipertensi.



askep gerontik dengan hipertensi
 Tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah (tensi)


Penatalaksanaan Askep Gerontik dengan Hipertensi

Askep gerontik penderita hipertensi diberikan oleh perawat yang berkolaborasi baik dengan dokter maupun petugas kesehatan lainnya dalam menangani penyakit hipertensi pada lansia. Penatalaksanaan askep gerontik penderita hipertensi juga dibuat berdasarkan hasil analisis dari pemeriksaan fisik dan laboratorium sehingga ditetapkan sebagai suatu penyakit hipertensi dengan penatalaksanaannya. Dari hasil pemeriksaan tersebut, sebelum dibuat askep gerontik dengan hipertensi, akan terlebih dahulu muncul diagnosis keperawatan yang berkaitan penderita hipertensi pada lansia.

Diagnosis dalam askep gerontik penderita hipertensi yang dapat muncul tersebut di antaranya ialah sebagai berikut :
  • Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, dan hipertropi ventricular;
  • Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral;
  • Risiko perubahan perfusi jaringan serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan adanya tahanan pembuluh darah, dan lain-lain.

Dari diagnosis dalam askep gerontik penderita hipertensi tersebut, maka dibuatlah suatu penatalaksanaan yang berkaitan dengan diagnosis yang telah ditetapkan. Penatalaksanaan askep gerontik penderita hipertensi dapat dilakukan berdasarkan diagnosis yang ditetapkan yaitu sebagai berikut :
  • Penatalaksanaan askep gerontik penderita hipertensi pada diagnosis penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular: memantau Tekanan Darah; mencatat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer; mengauskultasi tonus jantung dan bunyi napas; mengamati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler; mencatat edema umum; memberikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas, batasi jumlah pengunjung; mempertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat di tempat tidur/kursi; membantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan; melakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur; menganjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan; memantau respons terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah; memberikan pembatasan cairan dan diet natrium sesuai indikasi; dan berkolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi;
  • Penatalaksanaan askep gerontik penderita hipertensi pada diagnosis nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral: mempertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan; meminimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan; membantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan; menghindari merokok atau menggunakan penggunaan nikotin; memberi tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala seperti kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, posisi nyaman, teknik relaksasi, bimbingan imajinasi dan distraksi; menghilangkan/minimalkan vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala misalnya mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk; berkolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : analgesik, antiansietas (lorazepam, ativan, diazepam, valium);
  • Penatalaksanaan askep gerontik penderita hipertensi pada diagnosis risiko perubahan perfusi jaringan serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan adanya tahanan pembuluh darah: mempertahankan tirah baring; meninggikan kepala tempat tidur; mengkaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia; melakukan ambulasi sesuai kemampuan, hindari kelelahan; mengamati adanya hipotensi mendadak; mengukur masukan dan pengeluaran; mempertahankan cairan dan obat-obatan sesuai program; memantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai program.



Oleh: Bidan Sulistia
Editor: Adrie Noor
Sumber: askep-poltekesjyp.blogspot.co.id


Terima kasih untuk Like/comment FB :