Diagnosa Keperawatan Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

Dalam memberikan asuhan keperawatan hipertensi, sebelumnya perawat harus menetapkan diagnosa keperawatan hipertensi yang diperoleh atau dibuat berdasarkan pengkajian, baik dari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Setelah pengkajian baik anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang dilakukan. Setelah itu, diagnosa keperawatan hipertensi dibuat berdasarkan data fokus yang berkaitan dengan keluhan utama yaitu hipertensi.

Penetapan diagnosa ini  merupakan bagian yang terpenting karena berkaitan dengan asuhan keperawatan yang akan diberikan pada pasien hipertensi tersebut. Ketepatan dalam membuat diagnosa keperawatan hipertensi akan memengaruhi ketepatan dalam memberikan asuhan keperawatan yang mempunyai efek terhadap kecepatan dalam proses penyembuhan penyakit hipertensi.


diagnosa keperawatan hipertensi
Tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah (tensi)


Macam-macam Diagnosa Keperawatan Hipertensi

Diagnosa keperawatan pada pasien hipertensi yang satu dengan yang lainnya bisa jadi berbeda. Hal ini bergantung pada hasil pengkajian masing-masing pasien hipertensi. Namun, pada umumnya diagnosa keperawatan hipertensi terbagi menjadi beberapa macam, di antaranya ialah:
  • Diagnosa keperawatan hipertensi yang pertama mengenai risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, dan hipertropi ventricular;
  • Diagnosa keperawatan hipertensi yang kedua mengenai intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2;
  • Diagnosa keperawatan hipertensi yang ketiga mengenai gangguan rasa nyaman seperti nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral;
  • Diagnosa keperawatan hipertensi yang keempat mengenai potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi.

Pada masing-masing diagnosa keperawatan hipertensi tersebut akan menghasilkan suatu asuhan keperawatan. Masing-masing diagnosa keperawatan hipertensi mempunyai asuhan keperawatan yang berbeda. Misalkan gangguan rasa nyaman seperti nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral memiliki tujuan yaitu mencegah tekanan vaskuler agar tidak meningkat. Maka yang dilakukan dalam asuhan keperawatan yang diberikan ialah mempertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan; meminimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan; membatasi aktivitas; menghindari merokok atau menggunakan penggunaan nikotin; memberi obat analgesia dan sedasi sesuai pesanan; dan memberi tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi seperti kompres es, posisi nyaman, teknik relaksasi, bimbingan imajinasi, menghindari konstipasi.

Kemudian sebagai contoh lain pada diagnosa keperawatan hipertensi mengenai potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan gangguan sirkulasi memiliki tujuan yaitu mencegah sirkulasi tubuh agar tidak terganggu. Maka asuhan keperawatan yang diberikan ialah mempertahankan tirah baring; tinggikan kepala tempat tidur; mengkaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia; mempertahankan cairan dan obat-obatan sesuai pesanan; mengamati adanya hipotensi mendadak; mengukur masukan dan pengeluaran; memantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai pesanan; membantu melakukan ambulasi sesuai kemampuan, menghindari kelelahan.

Contoh yang lainnya dalam diagnosa keperawatan hipertensi mengenai risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular, memiliki tujuan agar afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, dan tidak terjadi iskemia miokard. Maka asuhan keperawatan yang diberikan ialah memantau tekanan darah dengan mengukur pada kedua tangan, gunakan manset dan teknik yang tepat; mencatat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer; melakukan auskultasi tonus jantung dan bunyi napas; mengamati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler; mencatat edema umum; memberikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas; mempertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat di tempat tidur/kursi; membantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan; dan lain sebagainya.


Oleh: Bidan Sulistia
Editor: Adrie Noor
Sumber: askep-asuhankeperawatan.com


Terima kasih untuk Like/comment FB :