Hipertensi Emergensi (Hipertensi Darurat)

Hipertensi emergensi disebut juga sebagai hipertensi darurat yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah. Biasanya tekanan darah diastoliknya melebihi 120 mmHg, disertai dengan kerusakan berat dari organ sasaran yang disebabkan oleh satu atau lebih penyakit/kondisi akut. Keterlambatan pengobatan dari hipertensi emergensi ini menyebabkan timbulnya sequele atau kematian. Pada hipertensi emergensi, tekanan darahnya harus diturunkan sampai batas tertentu dalam satu sampai beberapa jam kemudian penderita perlu dirawat di ruang ICU atau Intensive Care Unit.



hipertensi emergensi

Tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah (tensi)

Ciri-ciri Hipertensi Emergensi

Ciri-ciri hipertensi emergensi pada dasarnya merupakan kenaikan tekanan darah dengan diastolik melebihi 120 mmHg. Kenaikan tekanan darah tersebut dapat diikuti dengan satu atau lebih gejala hipertensi emergensi lainnya. Gejala-gejala lainnya ialah:  
  1. Perdarahan intra pranial, pmbotik CVA atau perdarahan subarakhnoid;
  2. Hipertensi ensefalopati;
  3. Aorta diseksi akut;
  4. Oedema paru akut;
  5. Eklampsi;
  6. Feokhromositoma;.
  7. Funduskopi KW III atau IV;
  8. Insufisiensi ginjal akut;
  9. Infark miokard akut, angina unstable;.
  10. Sindroma kelebihan kateholamin yang lain (sindromr withdawal obat anti hipertensi, cedera kepala, luka bakar, interaksi obat.
 

Penatalaksanaan Hipertensi Emergensi

Penatalaksanaan hipertensi emergensi dapat dilakukan apabila diagnosis hipertensi emergensi telah ditegakkan. Diagnosis dapat ditegakkan melalui beberapa tahap di antaranya ialah anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesa yang dilakukan pada penderita hipertensi emergensi meliputi anamnesa singkat tentang :
  1. Riwayat hipertensi meliputi lama dan beratnya;
  2. Obat antihipertensi yang digunakan dan kepatuhannya;
  3. Usia, biasanya sering terjadi pada usia 40-60 tahun;
  4. Gejala sistem syaraf seperti sakit kepala, perubahan mental,ansietas;
  5. Gejala sistem ginjal seperti gross hematuria, jumlah urinee berkurang;.
  6. Gejala sistem kardiovaskular seperti adanya payah jantung, kongestif fan oedem paru, dan nyeri dada;
  7. Riwayat penyakit seperti glomerulonefrosis, pyelonephritis;
  8. Riwayat kehamilan seperti tanda eklampsi.

Setelah itu lakukan pemeriksaan fisik terfokus dan pemeriksaan penunjang yang mengarah pada hipertensi emergensi. Penatalaksanaan hipertensi emergensi dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini:
  1. Perawatan di ruang ICU. Di ruang ICU pasien dipasang intra arterial line dan pulmonary arterial kateter (bila ada indikasi). Lakukan anamnesa singkat dan pemeriksaan fisik untuk menentukan fungsi kardiopulmoner dan status volume intravaskuler;
  2. Tentukan tekanan darah yang diinginkan dari lamanya dan tekanan darah sebelumnya, cepatnya kenaikan dan keparahan hipertensi, masalah klinis yang menyertai dan usia pasien;
  3. Pada dasarnya tujuan penurunan tekanan darah bukanlah untuk mendapatkan tekanan darah normal, tetapi untuk mendapatkan penurunan tekanan darah yang terkendali. Artinya diharapkan pasien tekanan darahnya tidak menurun secara drastis. Penurunan tekanan darah diastolik tidak kurang dari 100 mmHg. Tekanan sistolik tidak kurang dari 160 mmHg, ataupun MAP tidak kurang dari 120 mmHg selama 48 jam pertama, kecuali pada krisis hipertensi tertentu misalnya pada disecting aortiic aneurisma;
  4. Pada pasien hipertensi emergensi mengalami penurunan tekanan darah tidak lebih dari 20 % dari MAP ataupun tekanan darah yang didapat;
  5. Kemudian pasein diobservasi. Apabila penurunan tekanan darah awal dapat diterima oleh pasien  keadaan klinisnya stabil, maka 24 jam kemudian tekanan darah dapat diturunkan secara bertahap menuju angka normal;
  6. Pada pasien jika terjadi penurunan tekanan darah secara cepat ke tekanan darah normal atau sub normal pada awal pengobatan maka menyebabkan berkurangnya perfusi ke otak, jantung dan ginjal, dan hal ini harus dihindari pada beberapa hari permulaan kecuali pada keadaan tertentu;
  7. Pada pasien, diusahakan secara bertahap tekanan darahnya mencapai normal dalam satu atau dua minggu.
 

Oleh: Bidan Esi Esasi
Editor: Adrie Noor
Sumber: repository.usu.ac.id, dokterandrie.blogspot.co.id


Terima kasih untuk Like/comment FB :