Hipertensi pada Lansia (Lanjut Usia)

Hipertensi pada lansia memiliki gejala tidak berbeda jauh dengan hipertensi yang menyerang pada kalangan orang dewasa. Hipertensi lansia memiliki ciri peningkatan tekanan darah diastolik dan sistolik yang intermiten atau menetap. Pada lansia yang berusia di atas 50 tahun, pengukuran darah serial 150/95 mmHg atau lebih tinggi dipastikan sebagai hipertensi. Hipertensi pada lansia banyak terjadi sesuai dengan pernyataan yang mengemukakan bahwa insiden hipertensi akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

Tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik dapat meningkat sesuai dengan meningkatnya umur seseorang. Tekanan darah sistolik dapat meningkat secara progresif sampai dengan usia 10-80 tahun, sedangkan tekanan darah diastolik dapat meningkat sampai dengan usia 50-60 tahun dan kemudian tekanan darah baik sistolik maupun diastolik akan menetap atau sedikit menurun. Hal inilah yang terjadi pada hipertensi lansia. Kombinasi dari perubahan ini dapat sangat memungkinkan adanya kekakuan pembuluh darah dan penurunan kelenturan arteri yang dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah.



hipertensi pada lansia

Tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah (tensi)


Patofisiologi Hipertensi pada Lansia

Patofisiologi hipertensi pada lansia terjadi seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Tekanan darah menjadi salah satu predisposisi terbaik dari adanya perubahan struktural di dalam arteri. Patofisiologi hipertensi pada lansia sebenarnya belum dapat dijelaskan secara pasti. Namun, pada umumnya patofisiologi hipertensi pada lansia terjadi akibat proses penuaan yang terjadi pada sistem kardiovaskuler meliputi perubahan aorta dan pembuluh darah sistemik. Penebalan dinding aorta dan pembuluh darah besar meningkat dan elastisitas pembuluh darah menurun sesuai umur. Perubahan ini menyebabkan penurunan tekanan aorta dan pembuluh darah besar dan mengakibatkan peningkatan tekanan darah sistolik. Penurunan elastisitas pembuluh darah menyebabkan peningkatan resistensi vaskuler perifer. Sensitivitas baroreseptor juga berubah dengan umur. Perubahan mekanisme refleks baroreseptor menjelaskan adanya  variabilitas tekanan darah yang terlihat pada pemantauan terus menerus.

Akibat penurunan sensitivitas baroreseptor tersebut menyebabkan kegagalan refleks postural yang dapat mengakibatkan hipertensi pada lansia sering mengalami hipotensi ortostatik. Perubahan keseimbangan antara vasodilatasi adrenergic - β dan vasokonstriksi adrenergik-α akan menyebabkan kecenderungan vasokontriksi dan selanjutnya mengakibatkan peningkatan resistensi pembuluh darah perifer dan tekanan darah. Resistensi Na akibat peningkatan asupan dan penurunan sekresi juga berperan dalam terjadinya hipertensi. Walaupun ditemukan penurunan renin plasma dan responss renin terhadap asupan garam, sistem renin-angiotensin tidak mempunyai peranan utama pada hipertensi pada lansia.

Perubahan-perubahan di atas mempunyai peranan terhadap penurunan curah jantung (cardiac output), penurunan denyut jantung, penurunan kontraktilitas miokard, hipertrofi ventrikel kiri, dan disfungsi diastolik. Hal ini menyebabkan penurunan fungsi ginjal dengan penurunan perfusi ginjal dan laju filtrasi glomerulus. Selain itu, hal ini menyebabkan komplikasi pada lansia bukan hanya hipertensi.

Faktor yang Memengaruhi Hipertensi pada Lansia

Berdasarkan beberapa penelitian hipertensi pada lansia, ditemukan beberapa faktor yang memengaruhinya, di antaranya ialah:
  1. Faktor pertama yang memengaruhi hipertensi pada lansia ialah penurunan kadar renin karena menurunnya jumlah nefron akibat proses penuaan yang terjadi pada lansia. Hal ini menyebabkan sirkulus vitiosus atau hipertensi glomerelo-sklerosis-hipertensi yang berlangsung secara terus menerus;
  2. Faktor kedua yang memengaruhi hipertensi pada lansia ialah peningkatan sensitivitas terhadap asupan natrium. Seiring bertambahnya usia semakin sensitif terhadap peningkatan atau penurunan kadar natrium;
  3. Faktor ketiga yang memengaruhi hipertensi pada lansia ialah penurunan elastisitas pembuluh darah perifer akibat proses menua akan meningkatakan resistensi pembuluh darah perifer yang mengakibatkan hipertensi sistolik;
  4. Faktor keempat yang memengaruhi hipertensi pada lansia adalah perubahan ateromatous akibat proses menua sehingga menyebabkan disfungsi endotel yang berlanjut pada pembentukan berbagai sitokin dan subtansi kimiawi lain. Hal ini kemudian menyebabkan resorbsi natrium di tubulus ginjal, meningkatnya proses sklerosis pembuluh darah perifer dan keadaan lain berhubungan dengan kenaikan tekanan darah.
 

Oleh: Bidan Esi Esasi
Editor: Adrie Noor
Sumber: repository.usu.ac.id


Terima kasih untuk Like/comment FB :