Krisis Hipertensi (Kegawatan Hipertensi)

Krisis hipertensi disebut juga sebagai kegawatan hipertensi. Pada krisis hipertensi, tekanan darah sistolik dan diastolik naik secara tiba-tiba dan progresif. Fenomena ini merupakan cirinya. Krisis hipertensi harus mendapatkan penanganan yang khusus dan perawatan yang intensif agar tekanan darah dapat turun secara perlahan. Tentunya, penurunan tekanan darah secara perlahan lebih baik dibandingkan dengan penurunan tekanan darah secara drastis.



krisis hipertensi
Tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah (tensi)


Klasifikasi Krisis Hipertensi

Krisis hipertensi dibagi dalam beberapa klasifikasi berdasarkan prioritas dari pengobatan. Klasifikasi dari krisis hipertensi akan diuraikan sebagai berikut :
  1. Hipertensi emergensi atau hipertensi darurat. Merupakan jenis hipertensi yang ditandai dengan kenaikan tekanan darah diastolik melebihi 120 mmHg serta disertai dengan kerusakan berat dari organ sasaran yang disebabkan oleh satu atau lebih penyakit atau kondisi akut. Pada hipertensi emergensi, apabila timbul keterlambatan pengobatan bisa menimbulkan sequel atau kematian;
  2. Hipertensi urgensi atau hipertensi mendesak. Pada hipertensi urgensi ini tekanan darah diastoliknya melebihi 120 mmHg tanpa kerusakan atau komplikasi minimum dari organ sasaran. Tekanan darah harus diturunkan dalam 24 jam sampai batas yang aman.
 

Istilah dalam Krisis Hipertensi

  1. Istilah pertama ialah hipertensi refrakter. Hipertensi refrakter merupakan respons atas pengobatan yang tidak memuaskan, tekanan darah melebihi 200/110 mmHg walaupun telah diberikan pengobatan yang efektif atau triple dari yang ada pada penderita dan kepatuhan pasien;
  2. Istilah kedua adalah hipertensi akselerasi. Hipertensi akselerasi ialah keadaan tekanan darah meningkat yaitu diastoliknya lebih dari 120 mmHg disertai dengan kelainan funduskopi KW III. Apabila tidak diobati maka dapat berlanjut ke fase maligna;
  3. Istilah ketiga ialah hipertensi maligna. Hipertensi maligna yaitu keadaan  penderita hipertensi akselerasi penderita tekanan darah diastoliknya di atas 120 – 130 mmHg dan kelainan funduskopi KW IV disertai papiledema, kemudian terjadi peninggian tekanan intrakranial dan kerusakan yang cepat dari vaskular, gagal ginjal akut, dan pada akhirnya menyebabkan kematian bila penderita tidak mendapat pengobatan. Hipertensi maligna, biasanya terjadi pada penderita dengan riwayat hipertensi esensial atau sekunder. Namun, jarang terjadi pada penderita yang sebelumnya mempunyai tekanan darah yang normal;
  4. Istilah keempat ialah hipertensii ensefalopati. Hipertensi ensefalopati merupakan keadaan  naiknya tekanan darah dengan tiba-tiba disertai dengan keluhan sakit kepala yang sangat berat, perubahan kesadaran dan keadaan ini dapat menjadi reversible bila tekanan darah pada pasien tersebut diturunkan.
 

Penyebab Krisis Hipertensi

Kejadian krisis hipertensi berpotensi pada penderita hipertensi esensial maupun hipertensi akselerasi. Selain itu, krisis terjadi juga pada penderita dengan tekanan darah normal. Krisis hipertensi pada penderita yang dulunya memiliki tekanan darah normal terjadi karena glomerulonefritis akut, reaksi terhadap obat monoamin oksidase inhibitor (MAO), feokromositoma atau toksemia gravidarum.

Pada penderita yang telah mengidap hipertensi kronis, krisis hipertensi terjadi karena glomerulonefritis, pielonefritis, atau penyakit vaskular kolagen. Hal ini lebih sering terjadi pada hipertensi renovaskuler dengan kadar renin tinggi. Selain itu, krisis hipertensi terjadi juga pada berbagai usia. Mulai dari neonatus dengan hipoplasi arteri ginjal kongenital, anak-anak dengan glomerulonefritis akut, wanita hamil dengan eklampsia, atau orang yang lebih tua dengan arterisklerotis stenosis pembuluh darah ginjal.


Oleh: Bidan Esi Esasi
Editor: Adrie Noor
Sumber: repository.usu.ac.id, dokterandrie.blogspot.co.id


Terima kasih untuk Like/comment FB :