Terapi Hipertensi Secara Farmakologis

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat Indonesia. Pada umumnya penyakit hipertensi diderita para lansia. Untuk mengendalikan penyakit hipertensi ini dibutuhkan terapi . Terapi hipertensi terdiri dari 2 bagian, yaitu secara farmakologis dan nonfarmakologis. Terapi hipertensi secara farmakologis menggunakan obat-obatan yang bersifat kimiawi, sedangkan nonfarmakologis biasanya menggunakan tanaman atau tumbuhan yang berasal dari alam.



terapi hipertensi
 Tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah (tensi)


Terapi Hipertensi secara Farmakologis

Terapi hipertensi secara farmakologis melibatkan beberapa golongan obat antihipertensi. Pemilihan terapi secara farmakologis tergantung pada derajat atau tingkatan tekanan darah dan keberadaan compelling indication. Berikut ini beberapa golongan obat terapi hipertensi, di antaranya ialah:
  1. Obat terapi hipertensi golongan diuretik. Contoh golongan ini ialah Thiazide, Diuretik Hemat Kalium, dan Antagonis Aldosteron;
  2. Golongan Inhibitor ACE. Pemberian dosis awal dari inhibitor ACE sebaiknya di berikan dalam dosis yang rendah kemudian dinaikkan dosisnya secara bertahap. Efek samping dari penggunaan obat  golongan ini ialah terjadihipotensi akut. Hipotensi akut terjadi pada onset terapi inhibitor ACE terutama pada penderita yang kekurangan natrium atau volum, gagal jantung, orang lanjut usia, dan penggunaan bersama dengan vasodilator dan diuretik lainnya. Efek samping yang lainnya ialah neutropenia dan granulosit, proteinurea, glomerulonefritis, dan gagal ginjal akut. Persistensi batuk kering terjadi lebih dari 20%. Dosis yang dianjurkan untuk terapi hipertensi ialah satu kali sehari kecuali untuk captopril yang digunakan 2-3 kali sehari;
  3. Golongan penghambat reseptor angiotensin II (ARB). ARB berbeda debgan inhibitor ACE, ARB tidak berkerja memecah bradikininsehingga hal ini tidak memberikan efek samping batuk. Namun, obat ini tidak boleh digunakan pada ibu hamil;
  4. Golongan Beta Bloker. Pemberian obat golongan ini dapat menimbulkan beberapa efek samping di antaranya bradikardi, ketidaknormalan konduksi atrioventrikular (AV), dan gagal jantung akut. Perlu diingat bahwa penghentian terapi ini dengan menggunakan obat golongan beta bloker menyebabkan angina tidak stabil, dan infark miokardial;
  5. Golongan penghambat saluran kalsium (CCB). Contoh obat golongan ini ialah verapamil, diltiazem, dan nifedipin;
  6. Obat terapi hipertensi golongan penghambat reseptor alfa 1. Contoh golongan obat ini ialah prasozin, terasozin, dan doxazosin;
  7. Obat terapi hipertensi golongan antagonis alfa 2-pusar. Contoh golongan obat ini ialah klonidin dan metildopa.

Pada terapi hipertensi, kebanyakan penderita hipertensi tipe 1 sebaiknya diberikan terapi awal dengan diuretik thiazid, sedangkan bagi penderita tipe 2 pada umumnya diberikan terapi kombinasi yang salah satu obatnya ialah diuretik thiazid. Hal ini dapat diberikan kecuali terdapat kontraindikasi pemberian obat diuretik thiazid.

Untuk terapi hipertensi golongan diuretik, beta bloker, ACE inhibitor, angiotensin II reseptor blocker (ARB), dan calcium channel blocker merupakan agen primer berdasarkan data kerusakan organ target atau morbiditas dan kematian kardiovaskuler. Namun, untuk terapi hipertensi golongan obat alfa bloker, alfa2 agonis sentral, inhibitor adrenergic, dan vasodilator merupakan alternatif yang dapat digunakan penderita hipertensi setelah mendapatkan terapi dengan obat pilihan pertama. Pengobatan penyakit hipertensi lebih tepat ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam karena dokter spesialis penyakit dalam lebih mendalami tentang penyakit ini.


Oleh: Bidan Esi Esasi
Editor: Adrie Noor
Sumber: diarikesehatan.blogspot.co.id


Terima kasih untuk Like/comment FB :